Jakarta – Lebih dari tiga dekade menapaki dunia pers, Dar Edi Yoga memaknai profesinya bukan sekadar ruang kerja, melainkan ruang kontemplasi.
Baginya, menulis adalah cara merawat nurani sekaligus menjalin dialog dengan kehidupan. “Menulis bagi saya bukan sekadar profesi, tapi cara berdialog dengan kehidupan,” ujarnya, Rabu (24/2).
Pernyataan itu menggambarkan karakter Dar Edi yang tenang, reflektif, namun konsisten dalam pengabdian. Di dunia jurnalistik, rekam jejaknya terbilang panjang.
Ia kini menjabat Wakil Ketua Dewan Pertimbangan SMSI Pusat, anggota Pokja Pendataan Dewan Pers, serta Wakil Sekretaris Jenderal Confederation of ASEAN Journalists (CAJ).
Di internal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), ia pernah dipercaya sebagai Wakil Bendahara Umum PWI Pusat dan saat ini mengemban amanah sebagai Bendahara PWI Jaya periode 2023–2028.
Tak hanya itu, Dar Edi juga memimpin Askara.
co sebagai Pemimpin Redaksi dan terpilih sebagai Ketua Umum Forum Pemred Media Siber Indonesia periode 2024–2029.
Pada peringatan Hari Pers Nasional 2022, ia menerima penghargaan Pers Card Number One dari PWI Pusat.
Penghargaan tersebut ia maknai sebagai tanggung jawab moral, bukan sekadar simbol prestise.
Kiprahnya juga menjangkau forum internasional.
Empat kali menghadiri World Press Freedom Day di Seoul, Korea Selatan, ia membawa perspektif jurnalisme Indonesia ke panggung global.
Namun, menurutnya, esensi jurnalisme tetap bertumpu pada integritas pribadi. “Yang terpenting adalah tetap jujur pada hati, bahkan ketika tidak ada yang melihat,” katanya.
Di luar aktivitas redaksional, Dar Edi dikenal aktif dalam pembinaan spiritual.
Ia merupakan Master Sahaja Yoga sekaligus praktisi hipnoterapi.
Pada periode 2004–2010, ia melatih tenaga dalam Rasa Jati dan bahkan dipercaya membimbing personel Detasemen Deteksi Paspampres serta Kolinlamil.
Baginya, spiritualitas bukan sesuatu yang terpisah dari keseharian, melainkan kesadaran yang dihadirkan dalam setiap tindakan.
Kecintaannya terhadap alam tumbuh sejak masa sekolah.
Ia mendirikan Elpala SMA 68 Jakarta dan aktif di komunitas Top Ranger and Mountain Pathfinder (TRAMP) sejak 1985.
Ia juga pernah menjadi manajer pendakian empat puncak tertinggi dunia bagi pendaki tunadaksa asal Solo, Sabar Gorky.
“Gunung mengajarkan kita rendah hati. Di sana, kita belajar bahwa hidup adalah tentang ketekunan,” tuturnya.
Dalam bidang sosial dan kebudayaan, Dar Edi turut menggagas Beranda Ruang Diskusi sebagai ruang temu lintas profesi dan gagasan.
Ia juga terlibat dalam Vox Point Indonesia, FORMAS, PERWATUSI, serta saat ini menjabat Sekretaris Yayasan Gardu 08 Indonesia.
Pada 4 Desember 2025, ia menginisiasi pagelaran sendratari di Gunung Padang sebagai bagian dari upaya merawat warisan sejarah dan budaya bangsa.
Sebagai umat Katolik, ia aktif dalam pelayanan pastoral di Keuskupan untuk umat Katolik di lingkungan TNI-Polri serta menjadi peserta SAGKI 2025.
Pada era 1990-an, ia turut membangun komunitas Karyawan Muda Katolik di Gereja Katedral Jakarta dan Kelompok Meditasi Keluarga Kudus.
Di balik berbagai jabatan dan aktivitas tersebut, Dar Edi tetap memegang prinsip hidup sederhana.
Ia menilai pengabdian bukan diukur dari banyaknya posisi, melainkan dari kedalaman kontribusi.
“Hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita capai, tapi seberapa dalam kita memberi,” ucapnya.
Bagi Dar Edi Yoga, pengabdian adalah perjalanan panjang yang dijalani dalam kesunyian dan kesetiaan, jauh dari kegaduhan, namun sarat makna.
