Jakarta — Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Sumatera Utara sekaligus Koordinator Wilayah I Sumatera Utara–Nanggroe Aceh Darussalam (SUMUT–NAD), Chrisye Sitorus, menegaskan bahwa penanganan banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menunjukkan kehadiran negara secara nyata dan terukur sejak hari-hari awal bencana.

“Dalam situasi bencana, pertanyaan paling mendasar sebenarnya sederhana: apakah negara hadir atau tidak. Berdasarkan data dan kondisi di lapangan, jawabannya jelas—negara hadir,” ujar Chrisye Sitorus dalam keterangannya, Rabu.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah bergerak cepat sejak fase awal bencana dengan membuka akses ke wilayah terdampak menggunakan alat berat, mendirikan posko-posko penanganan, serta memulihkan jaringan listrik, komunikasi, dan jalur distribusi logistik agar bantuan dapat segera menjangkau masyarakat.

Menurut Chrisye, kehadiran negara paling konkret terlihat dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya pangan. Pemerintah menyalurkan bantuan pangan dengan total nilai Rp1,249 triliun, yang terdiri dari lebih dari 44 ribu ton beras dan lebih dari 4 juta liter minyak goreng, untuk menjangkau jutaan warga terdampak di wilayah Sumatera.

“Ini bukan angka simbolik. Ini logistik nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Artinya jelas, tidak ada warga yang dibiarkan kelaparan di tengah bencana,” tegasnya.

Sebagai tokoh pemuda di wilayah terdampak, Chrisye juga menyoroti peran kepemimpinan pemerintah pusat dalam memastikan koordinasi lintas lembaga berjalan efektif, mulai dari BNPB, TNI–Polri, kementerian teknis, hingga pemerintah daerah. Ia menilai penyaluran dana operasional darurat langsung ke daerah menjadi langkah tepat untuk mempercepat respons di lapangan tanpa terhambat birokrasi.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak berhenti pada fase tanggap darurat semata. Tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi telah disiapkan, termasuk pembangunan hunian bagi korban bencana agar masyarakat tidak berlarut-larut tinggal di pengungsian tanpa kepastian.

“Kita tentu berharap penanganan terus disempurnakan. Namun jika berbicara tentang kehadiran negara, datanya terang, yakni: pemerintah hadir, bekerja, dan bergerak dengan skala serta sumber daya yang nyata,” pungkas Chrisye.