Yogyakarta — Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) bersama Pengurus Wilayah KAMMI Daerah Istimewa Yogyakarta (PW KAMMI DIY), berkolaborasi dengan Direktorat Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Perairan Darat, Deputi Tata Lingkungan Sumber Daya Alam Berkelanjutan Kementerian Lingkungan Hidup, serta MFCR, melaksanakan Gerakan Edukasi dan Aksi Perlindungan serta Pengelolaan Ekosistem Mangrove pada Sabtu, 4 April 2026 di Hutan Mangrove Pantai Baros, Bantul.
Ratusan kader KAMMI dan unsur organisasi pemuda di DIY turun langsung ke lapangan. Kegiatan difokuskan pada aksi konkret, mulai dari edukasi berbasis kondisi lapangan hingga penanaman ratusan bibit mangrove sebagai langkah awal pemulihan ekosistem pesisir.
Ketua Umum PP KAMMI, Ahmad Jundi, menegaskan bahwa gerakan lingkungan harus dimulai dari titik paling rentan, yaitu wilayah pesisir.
“Kerusakan lingkungan tidak bisa diselesaikan dari ruang diskusi saja. Pesisir adalah garis depan yang paling cepat terdampak. Karena itu, gerakan ini kita mulai dari sini. Milad ke-28 harus melahirkan aksi yang terukur. Kita tanam, kita jaga, dan kita pastikan mangrove tumbuh. Ini soal memastikan generasi berikutnya tidak menerima beban kerusakan dari kita,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa keberlanjutan antar generasi hanya bisa dicapai melalui intervensi nyata yang konsisten.
“Setiap bibit yang ditanam harus punya rencana pengelolaan. Tidak boleh berhenti di hari ini. Gerakan ini harus berlanjut, terpantau, dan memberi dampak langsung pada perlindungan pesisir,” lanjutnya.
Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan PP KAMMI, Aulia Furqon, menyampaikan bahwa perbaikan lingkungan hidup harus dimulai dari aksi yang disiplin dan berkelanjutan, bukan kegiatan sesaat.
“Kita tidak sedang mengejar jumlah penanaman. Kita mengejar keberhasilan tumbuh. Itu yang sering hilang. Generasi muda harus memastikan mangrove yang ditanam benar-benar hidup dan berfungsi melindungi pesisir. Ini langkah konkret untuk memperbaiki lingkungan, dimulai dari titik yang paling terdampak,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam pengawasan dan pengelolaan jangka panjang.
“Kalau tidak ada pengawalan, maka kerusakan akan berulang. Generasi muda harus masuk sebagai aktor utama. Mereka harus mengawal dari penanaman, pemeliharaan, sampai evaluasi. Di situlah letak keberlanjutan antar generasi dibangun secara nyata,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, KAMMI menegaskan arah gerakan. Perbaikan lingkungan hidup tidak bisa ditunda dan tidak bisa setengah-setengah. Dimulai dari pesisir, gerakan ini diarahkan untuk memastikan ekosistem mangrove terlindungi, terkelola, dan memberi manfaat jangka panjang.
Milad ke-28 bukan sekadar penanda usia. Ini adalah titik kerja. Dari pesisir, KAMMI memulai langkah konkret untuk memastikan lingkungan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang.
