Penulis oleh Maradona Setiawan

Bangsa besar tidak tumbuh dari amarah, fitnah, dan kebencian. Kemajuan lahir dari gagasan, kerja nyata, dan keberanian menawarkan solusi. Ketika energi publik habis untuk saling menyerang, waktu dan sumber daya untuk membangun justru terbuang sia-sia.

Politik kebencian memang mahir mencari kesalahan, tapi tumpul saat diminta jalan keluar. Ia hanya pandai menuding, tanpa pernah memberi arah. Sebaliknya, politik gagasan mengajak kita berpikir ke depan: bagaimana menciptakan lapangan kerja, meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat ekonomi rakyat, dan menghadirkan pemerintahan yang melayani, bukan dilayani.

Dalam demokrasi, perbedaan pendapat adalah keniscayaan dan itu sehat, kritik membangun bangsa. Tapi ketika kritik berubah jadi kebencian, diskusi berubah jadi permusuhan. Hasilnya bukan kemajuan, melainkan kemunduran. Ruang publik yang seharusnya menjadi pasar ide, berubah jadi arena saling caci. Padahal kita punya prinsip yang jelas : Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Keduanya adalah dasar sikap mental kita agar tetap bersatu dan damai. Ketika prinsip itu diabaikan, yang terjadi justru sebaliknya: retak dan pecah belah.

Karena itu, politik yang berorientasi pada ide, inovasi, dan pelibatan generasi muda menjadi kebutuhan mendesak. Publik hari ini sudah cerdas. Rakyat tidak lagi silau pada siapa paling keras berteriak di panggung. Mereka melihat siapa yang bekerja, siapa yang hasilnya nyata, siapa yang hadir saat dibutuhkan.

Pada akhirnya, kebencian tidak membangun jalan, tidak membuka lapangan kerja, tidak menaikkan kesejahteraan. Hanya gagasan dan kerja yang bisa. Mudah mencari kesalahan, jauh lebih sulit menawarkan solusi. Saat sebagian orang sibuk menghitung kebencian, yang lain sibuk menghitung hasil kerja. Dan bangsa ini butuh yang kedua.

Jika kita ingin perubahan, hentikan kebisingan. Mari kembali ke politik gagasan. Karena masa depan tidak dibangun oleh teriakan, tapi oleh karya.