JAKARTA — Program Magang Nasional 2026 yang diluncurkan Kementerian Ketenagakerjaan mendapat apresiasi dari kalangan aktivis kepemudaan. Program tersebut dinilai menjadi langkah strategis pemerintah dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif sekaligus menjawab kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.
Aktivis kepemudaan Nazmul Watan menilai Program Magang Nasional tidak hanya berfungsi sebagai program pelatihan kerja, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk mempercepat transisi lulusan sekolah dan perguruan tinggi menuju dunia kerja profesional.
“Program Magang Nasional merupakan bentuk investasi negara dalam membangun sumber daya manusia unggul. Di tengah tingginya angka pengangguran usia muda dan kesenjangan kompetensi, magang menjadi jembatan yang mempertemukan dunia pendidikan dengan kebutuhan nyata industri,” ujar Nazmul, Selasa (30/6/2026).
Pemerintah menargetkan sebanyak 150.000 peserta mengikuti Program Magang Nasional pada 2026. Jumlah tersebut meningkat 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 100.000 peserta. Pelaksanaan tahap pertama akan dimulai pada Juli 2026 dengan kuota awal sebanyak 50.000 peserta.
Menurut Nazmul, peningkatan target peserta menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memperluas akses pengalaman kerja bagi generasi muda. Ia menilai program tersebut menjadi salah satu langkah konkret dalam mempersiapkan Indonesia menghadapi bonus demografi yang akan menentukan arah pembangunan nasional dalam beberapa dekade mendatang.
Selain memperluas akses, Program Magang Nasional juga dinilai telah menunjukkan dampak nyata terhadap penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan data yang disampaikan pemerintah, sekitar 30 persen peserta program magang tahun 2025 berhasil memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan masa magangnya.
“Capaian ini menunjukkan bahwa magang bukan sekadar aktivitas belajar di tempat kerja, tetapi telah menjadi jalur efektif bagi anak muda untuk memperoleh pengalaman profesional dan meningkatkan peluang mendapatkan pekerjaan,” katanya.
Nazmul juga mengapresiasi komitmen pemerintah yang membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk mengikuti Program Magang Nasional. Menurutnya, pendekatan tersebut mencerminkan semangat pembangunan sumber daya manusia yang inklusif dan berkeadilan.
“Kesempatan meningkatkan keterampilan dan memperoleh pengalaman kerja harus dapat diakses oleh seluruh warga negara tanpa diskriminasi. Karena itu, keterlibatan penyandang disabilitas dalam program ini merupakan langkah yang patut diapresiasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai manfaat program magang tidak hanya terbatas pada peningkatan peluang kerja, tetapi juga memberikan pengalaman yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas. Melalui program tersebut, peserta dapat belajar mengenai budaya kerja, kepemimpinan, komunikasi profesional, disiplin, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Selain memperoleh pengalaman kerja, peserta juga mendapatkan uang saku yang disesuaikan dengan standar upah minimum daerah serta perlindungan sosial selama mengikuti program. Hal itu dinilai dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan daya saing peserta di pasar kerja.
Meski demikian, Nazmul mengingatkan agar peningkatan jumlah peserta tidak mengurangi kualitas pelaksanaan program. Ia mendorong pemerintah untuk terus memperkuat sistem pendampingan, evaluasi kompetensi, perlindungan peserta, serta mendorong keterlibatan aktif dunia usaha dan dunia industri.
“Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang terlibat, tetapi juga dari seberapa besar dampaknya dalam meningkatkan kompetensi dan membuka akses pekerjaan yang layak bagi generasi muda,” katanya.
Menurutnya, Program Magang Nasional harus dipandang sebagai investasi jangka panjang negara dalam mempersiapkan generasi yang produktif, kompetitif, dan siap menghadapi perubahan dunia kerja global.
“Dukungan terhadap Program Magang Nasional sejatinya adalah dukungan terhadap masa depan generasi muda Indonesia. Jika dijalankan secara konsisten dan berkualitas, program ini dapat menjadi salah satu fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045,” tutupnya.
