JAKARTA — Produk tas kulit Beelbe tampil sebagai inovasi yang mengangkat seni ukir tradisional ke pasar modern melalui program Persit Bisa yang akan diselenggarakan di Balai Kartini, 7-9 Mei 2026.
Penggagas Beelbe memanfaatkan momentum kegiatan organisasi untuk memperkenalkan produk berbasis budaya dengan pendekatan desain kontemporer.
Inisiatif ini menjawab kekhawatiran terhadap menurunnya eksistensi seni ukir yang mulai ditinggalkan generasi muda.
Beelbe mengintegrasikan motif ukiran khas daerah dengan sentuhan seni lukis untuk menciptakan identitas visual yang kuat.
Produk tersebut tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga membawa nilai filosofis dari setiap motif yang digunakan.
Pengrajin mengolah bahan kulit asli dengan dominasi pengerjaan manual guna menjaga kualitas dan keaslian karya.
Sekitar 80 persen proses produksi dilakukan secara handmade sehingga setiap produk memiliki karakter unik dan tingkat originalitas yang tinggi.
Selain itu, Ny. Ayu Rama sebagai penggagas produk menerapkan prinsip ramah lingkungan dengan limbah produksi yang sangat minim.
Penggunaan kulit sapi nabati menunjukkan upaya menjaga keberlanjutan melalui proses penyamakan berbasis bahan alami.
Penggagas juga menegaskan tidak menggunakan material dari hewan langka sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan.
“Kami ingin menghadirkan produk yang tidak hanya indah, tetapi juga memiliki nilai budaya dan keberlanjutan,” ujar Ny. Ayu Rama.
Ia menilai inovasi menjadi kunci agar seni tradisional tetap relevan di tengah perkembangan industri kreatif.
Peran Persit Dorong Ekosistem Kreatif
Pengembangan Beelbe mendapat dukungan kuat dari Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Daerah Jaya, Ibu Sandi Deddy Suryadi.
Ia memberikan motivasi, kepercayaan, serta arahan strategis dalam setiap tahap pengembangan produk.
“Dukungan pimpinan menjadi faktor penting dalam mendorong kami untuk terus berinovasi,” ungkap Ny. Ayu Rama sebagai penggagas produk.
Program Persit Bisa menjadi wadah bagi anggota untuk mengembangkan usaha berbasis kreativitas dan kemandirian ekonomi.
Persit mendorong anggota meningkatkan kualitas produk melalui pembinaan, pelatihan, dan kolaborasi.
Selain itu, organisasi juga membuka akses pemasaran melalui bazar dan kegiatan promosi lainnya.
Langkah ini memperkuat posisi UMKM binaan agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
