Jakarta – Pengamat Politik Nandang Kurniadi menilai Program Magang Nasional 2026 merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang memiliki dampak strategis dalam menjawab persoalan transisi lulusan perguruan tinggi menuju dunia kerja.
Menurutnya, peningkatan kuota peserta serta capaian penyerapan tenaga kerja pada pelaksanaan sebelumnya menunjukkan bahwa program tersebut tidak sekadar menjadi agenda administratif, tetapi telah berkembang menjadi instrumen pembangunan sumber daya manusia yang konkret.
“Selama ini kita menghadapi paradoks yang cukup serius. Banyak perusahaan mensyaratkan pengalaman kerja bagi lulusan baru, sementara pengalaman tersebut sulit diperoleh tanpa terlebih dahulu memasuki dunia kerja.
Magang Nasional menjadi salah satu solusi yang mampu memutus lingkaran tersebut,” ujar Nandang
Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan dijadwalkan membuka pendaftaran Magang Nasional 2026 pada 15 Juli 2026 dengan kuota sebanyak 150.000 peserta, meningkat signifikan dibandingkan kuota tahun sebelumnya yang berjumlah 100.000 peserta.
Program akan dilaksanakan dalam tiga gelombang, masing-masing sebanyak 50.000 peserta.
Menurut Nandang, peningkatan kuota tersebut merupakan respons yang logis terhadap tingginya antusiasme masyarakat.
Pada pelaksanaan tahun 2025, jumlah pelamar tercatat hampir mencapai 400.000 orang, sementara kuota yang tersedia hanya 100.000 peserta.
“Besarnya jumlah pelamar menunjukkan bahwa publik memandang Magang Nasional sebagai program yang memiliki nilai nyata.
Tingginya animo ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah dalam mempersiapkan tenaga kerja muda,” jelasnya.
Ia juga menyoroti capaian Program Magang Nasional 2025 yang disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, yakni sekitar 30 persen peserta berhasil memperoleh pekerjaan dalam waktu enam bulan setelah menyelesaikan program magang.
“Angka tersebut merupakan indikator yang cukup positif. Artinya, pengalaman magang benar-benar mampu meningkatkan daya saing lulusan di pasar kerja.
Di tengah tantangan tingginya persaingan memperoleh pekerjaan pertama, capaian ini menunjukkan bahwa program tidak berhenti pada proses pelatihan semata, tetapi menghasilkan outcome yang terukur,” katanya.
Selain peningkatan kuota, Nandang menilai perluasan sasaran peserta yang kini mencakup lulusan pendidikan profesi merupakan langkah yang tepat.
