Menurutnya, kebutuhan dunia kerja saat ini tidak hanya bergantung pada lulusan akademik, tetapi juga memerlukan tenaga profesional dengan kompetensi yang siap diterapkan di lapangan.

“Semakin inklusif akses yang diberikan pemerintah, semakin besar peluang berbagai kelompok lulusan untuk memperoleh pengalaman kerja yang relevan.

Hal ini penting agar proses transisi dari pendidikan menuju dunia kerja dapat berlangsung lebih merata,” ungkapnya.

Lebih jauh, Nandang memandang Magang Nasional sebagai bagian dari strategi pemerintah dalam memanfaatkan momentum bonus demografi Indonesia.

Menurutnya, investasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi prioritas agar bonus demografi dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Program seperti Magang Nasional memiliki nilai strategis karena tidak hanya meningkatkan kompetensi individu, tetapi juga memperkuat keterhubungan antara institusi pendidikan, dunia usaha, dan kebutuhan pasar tenaga kerja.

Ini merupakan investasi jangka panjang bagi daya saing bangsa,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi keterbukaan pemerintah dalam menyampaikan data evaluasi pelaksanaan program kepada publik.

Transparansi mengenai jumlah peserta, tingkat penyerapan kerja, serta perluasan cakupan program dinilai penting sebagai bentuk akuntabilitas kebijakan publik.

Menjelang pembukaan pendaftaran pada 15 Juli 2026, Syaputra mengimbau mahasiswa tingkat akhir, lulusan baru, maupun lulusan pendidikan profesi untuk memanfaatkan kesempatan tersebut secara maksimal.

“Magang Nasional 2026 bukan hanya kesempatan memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk membangun karier profesional.

Bagi generasi muda yang sedang mempersiapkan masa depan, program ini layak dimanfaatkan sebagai langkah awal memasuki dunia kerja yang semakin kompetitif,” tutupnya.